Rabu, 28 Maret 2012

Sekolah Tidak Harus Mahal


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menyelenggarakan Pendidikan berkualitas merupakan amanah Undang-undang yang tertuang dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003. Pada pasal 3 disebutkan bahwa : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas 2003 pasal 3).
Belakangan banyak bermunculan sekolah-sekolah yang berlabel unggulan, sebagai manifestasi dari harapan untuk mewujudkan UU sisdiknas tersebut. Baik sekolah Negeri maupun sekolah swasta berlomba – lomba untuk mewujudkan sekolah yang dinyatakan berkualitas. Berbagai pencitraan pun dibentuk mulai dari Sekolah Internasional (Internasional School), Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Sekolah Nasional Plus dan lain – lain. Kini persaingan antara intansi pendidikan (sekolah) semakin terbuka. Tidak hanya terjadi pada sekolah swasta, namun juga terjadi di sekolah negeri. Biaya pendidikan pun menjadi tolak ukur kualitas pendidikan suatu sekolah.         Sebagai contoh, sekolah negeri A, mengklaim dirinya sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Sekolah tersebut menjanjikan bahwa kualitas pendidikannya akan setara dengan sekolah yang bertaraf internasional. Sebagai efek dari citra atau label bertaraf internasional tersebut, orang tua harus membayar lebih untuk biaya pendidikan putra – putri mereka di sekolah tersebut. Contoh lain adalah sekolah swasta B, yang dengan statusnya yang Nasional Plus, menjanjikan pendidikan berkualitas dengan didukung oleh fasilitas yang lengkap. Sama halnya dengan contoh pertama, lagi – lagi orang tua harus membayar lebih untuk biaya pendidikan. Dengan label tersebut banyak orang tua yang tertarik untuk menyekolahkan putra – putrinya di sekolah tersebut. Orang tua siswa juga kadang tidak peduli berapapun biayanya akan mereka usahakan yang penting anak mereka bisa bersekolah di sekolah tersebut. Melihat fenomena tersebut, penulis sangat yakin para orang tua tersebut mempunyai tujuan yang sama, yakni memberikan pendidikan yang terbaik untuk putra putri mereka.
 Jika demikian kenyataannya, benarkah pendidikan kita sedang menuju arah yang lebih baik? Benarkah dengan biaya yang mahal akan menjamin pendidikan itu berkualitas? Atau dengan menyekolahkan anak pada sekolah yang berbiaya tinggi akan menjamin masa depan si anak?

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis kemudian merumuskan satu pertanyaan yang menjadi pokok pembahasan makalah ini. Pertanyaan tersebut adalah apakah pendidikan berkualitas itu selalu mahal?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini, selain sabagai bahan diskusi perkuliahan Manajemen Strategik di Program Pasca Sarjana Universitas Pakuan, juga diharapkan menjadi gambaran bagaimana mewujudkan sekolah yang berkualitas.

D.    Pembatasan Masalah
Untuk membatasi terlalu meluasnya pembahasan makalah ini, penulis hanya akan membahas tentang pertanyaan, Apakah sekolah berkualitas selalu mahal? Pada sekolah swasta dan negeri dan swasta dilihat dari teori entitas.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Sekolah Berkualitas
Pandangan masyarakat tentang sekolah berkualitas, unggulan atau sekolah juara, sangat bervariatif. Sebagian besar masyarakat, belum banyak mengetahui apa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Umumnya, masyarakat mengartikan sekolah berkualitas, dengan sekolah yang lulusannya pintar, nilai bagus, indikatornya banyak dari lulusan sekolah tersebut diterima di perguruan tinggi bergengsi di negeri ini.
Ciri lainnya, sekolah berkualitas, unggulan, juara adalah karena banyak peminatnya. Artinya, jumlah yang mendaftar di sekolah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah yang dapat diterima. Dari pandangan ini, berarti semakin banyak jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi bergengsi serta semakin banyak jumlah pendaftar yang ingin masuk ke sekolah itu, maka semakin menunjukkan tingkat keunggulan sekolah bersangkutan.
Secara pasti, tidak ada batasan yang definitif tentang sekolah berkualitas, karena konsep itu sifatnya tentatif, kondisional, terikat oleh waktu dan tempat, sesuai kecenderungan apa yang tengah menjadi kebutuhan masyarakat, dan tergantung dengan kondisi sekolah bandingannya.
Karena itu, apa pun definisi yang dibuat masyarakat tentang sekolah berkualitas, unggul, juara, adalah sah-sah saja. Bahkan, dalam batas-batas tertentu perlu dipertimbangkan dan diakomodasi. Tetapi, bagi para pengelola pendidikan, konsep sekolah berkualitas ini perlu dirumuskan secara lebih operasional, agar indikator-indikatornya bisa dilihat bahkan bisa diukur secara jelas.
Secara lebih kontekstual dan operasional sesuai dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat dewasa ini, sekolah berkualitas bisa diartikan merupakan sekolah yang dapat melahirkan lulusan yang mandiri, yang dapat membuka lapangan kerja, bukan pencari kerja yang memberi konstribusi semakin tambahnya jumlah penganggur terdidik dan terselubung.
Dengan demikian, indikator kualitas dan keunggulannya, selain dilihat dari seberapa besar dan seberapa banyak kesiapan lulusannya untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi, juga dapat diukur dengan semakin banyaknya dari mereka yang hidup mandiri, karena kemampuan keterampilannya dan kekuatan wawasan kewirausahaannya.

B.     Teori Entitas (Entity Theory)
      Ide utama dari entity theory ini adalah memahami perusahaan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya. Teori ini muncul dengan maksud mengurangi kelemahan- kelemahan yang ada dalam proprietary theory di mana pemilik menjadi pusat perhatian. Namun demikian, entity theory pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan teori pendahulunya, proprietary theory. Dalam konteks teori ini, terdapat dua pandangan yang berbeda walaupun keduanya mengarah kepada konklusi yang sama, yaitu stewardship atau pertanggungjawaban (accountability). Versi pertama adalah versi tradisional yang memandang bahwa perusahaan beroperasi untuk keuntungan pemegang saham, yaitu orang-orang yang menanamkan dananya dalam perusahaan. Dalam hal ini, entitas bisnis memperlakukan akuntansi sebagai laporan kepada pemegang saham tentang status dan konsekuensi dari investasi mereka. Sementara itu versi kedua, yaitu pandangan yang lebih baru terhadap entity theory,menganggap bahwa sebuah entitas adalah bisnis untuk dirinya sendiri yang berkepentingan terhadap kelangsungan hidup dan perkembangannya. Meskipun kedua versi tersebut menempatkan entitas sebagai unit independen, namun terdapat sedikit perbedaan konsep di antara keduanya. Pandangan tradisional masih memposisikan pemegang saham sebagai “partisipan” (associates), sementara sudut pandang baru lebih memposisikan mereka sebagai pihak luar (outsiders). Namun demikian, hal ini tidak mempengaruhi muatan informasi dari laporan akuntansi yang disajikan oleh entitas tersebut.
Timbulnya organisasi bentuk korporasi, (1) diikuti oleh pemisahan antara kepemilikan dan  manajemen, (2) membatasi kewajiban pemilik dan (3) dari definisi bahwa suatu korporasi adalah sebagai suatu pribadi, merupakan faktor pendorong evolusi teori baru pemilikan, salah satunya entity theory. Entity theory dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
            Assets = Equities
Entity theory, seperti proprietary theory, bersudut pandang pada perusahaan dan orang-orang yang terlibat dengan operasi perusahaan. Sudut pandang ini meletakkan perusahaan, bukan pemilik, sebagai pusat kepentingan akuntansi dan tujuan pelaporan keuangan. Inti dari teori ini adalah kreditor seperti pemegang saham menyumbangkan sumber daya pada perusahaan, dan perusahan yang berdiri sebagai entitas yang berbeda dan terpisah dari kreditor dan pemegang saham (penyumbang sumber daya). Assets dan liabilities adalah milik perusahaan, bukan milik pemilik. Pendapatan yang diterima menjadi kekayaan entitas, dan beban yang terjadi menjadi kewajiban entitas. Setiap laba merupakan milik entitas, dan menjadi milik pemegang saham hanya ketika dividend diumumkan. Berdasarkan teori ini, semua unsur yang terdapat pada sebelah kanan neraca, kecuali retained earnings (ini milik perusahaan), dipandang sebagai klaim pada assets perusahaan, dan unsur-unsur individu dibedakan berdasarkan pada sifat klaim tersebut. Beberapa unsur diidentifikasi sebagai klaim kreditor dan klaim lainnya sebagai klaim pemilik; namun semuanya merupakan klaim terhadap perusahaan sebagai entity yang terpisah.
           


BAB III
APAKAH SEKOLAH BERKUALITAS SELALU MAHAL?
            Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis membagi menjadi dua jawaban. Yang pertama adalah jawaban umum atau pendapat kami mengenai pendidikan berkualitas dan biaya pendidikan. Sedangkan yang kedua, penulis akan membahas pendidikan berkualitas dan biaya pendidikan yang dikaitkan dengan teori entitas.
A.    Pandangan Umum
Ungkapan ada harga ada rupa adalah tepat sekali. Sulit sekali sekolah berkualitas tapi murah. Realitanya pendidikan itu mahal. Sekolah swasta merupakan contoh riil akan hal ini. Biaya operasioanl yang tinggi ditambah dengan penyediaan fasilitas menjadikan sekolah swasta memiliki tariff yang lebih tinggi dari pada sekolah negeri. Di sekolah swasta orangtua harus menanggung semua biaya penyelenggaraan sekolah mulai dari operasional, gaji dan tunjangan guru, fasilitas keluarga guru, Program pengembangan sekolah (fasilitas dan SDM) dan lainnya.
Para orang tua yang menyekolahkan putra – putrinya di sekolah swasta berharap banyak bahwa dengan biaya yang tinggi, putra – putrinya akan mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sekolah swasta biasanya akan memberikan timbal balik yang sepadan. Fasilitas pendukung pendidikan diupayakan selengkap mungkin. Untuk mewujudkan fasilitas pendukung yang baik dan menunjang, diperlukan biaya yang tidak sedikit.
Para guru pun diharapkan memberikan pelayanan pendidikan yang prima. Sumber Daya Manusia di pilih secara ketat serta diberikan pelatihan pengembangan diri sehingga memenuhi standar pelayanan yang diharapkan. Selain itu, kesejahteraan guru dan tenaga pendidikan pun menjadi cara lain untuk tetap memberikan pelayanan prima kepada anak didik sekolah swasta. Sekali lagi, dibutuhkan biaya pendidikan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan sector ini.
Sekolah swasta biasanya akan terus berupaya untuk berkembang dan melebarkan sayap usahanya. Selain biaya operasional pendidikan, kesejahteraan guru dan fasilitas, sekolah swasta pasti mempunyai program pengembangan sekolah yang akan memberikan kesejahteraan bagi pihak – pihak yang berkecimpung di dalamnya.
Sekolah Negeri khususnya SD dan SMP bisa menyatakan sekolah gratis. Sekolah – sekolah tersebut tanpa biaya karena semua dibiayai pemerintah dalam program yang bernama Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun kenyataannya juga banyak yang belum berkualitas. Bahkan kadang menjadi candaan, ketika hasil belajarnya kurang baik. Gratis kok mau kualitas bagus! Tentu saja biaya tetap harus ada untuk menutupi sektor pembiayaan pendidikan lain yang tidak tercover dalam sumbangan dana BOS dari pemerintah.
Untuk mewujudkan sekolah murah yang berkualitas di Indonesia memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Diperlukan banyak faktor, aspek dan dukungan yang besar dari semua pihak yang terkait di dalamnya. Mulai dari pemerintah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para kepala sekolah, guru dan juga orang tua.

B.     Berdasarkan Teori Entitas
Sekolah merupakan salah satu lembaga yang mempunyai prinsip sama dengan sebuah perusahaan atau organisasi. Di saat ini banyak sekolah bermunculan dengan dalih mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyediakan pendidikan yang berkualitas. Banyak yayasan atau perseorangan yang rela mengucurkan dananya untuk membangun sebuah lembaga pendidikan. Namun dibalik tujuan mulia tersebut, ada pula tujuan lain yang diharapkan dari mendirikan sebuah lembaga pendidikan/ sekolah. Tujuan tersebut yaitu profit atau keuntungan.
Entity theory adalah memahami perusahaan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya. Teori ini menjelaskan bahwa suatu entitas atau organisasi bisnis mempunyai akuntabilitas yang terpisah dari pemilik (Marshall, 1927). Pemisahan ini dapat disajikan dalam suatu persamaan:

Aset  =  Kewajiban + Ekuitas

Dengan demikian, dalam suatu sekolah ada yang berperan sebagai principal dan ada juga yang berperan sebagai agen. Di sekolah negeri, pemerintah berperan sebagai principal sedangkan kepala sekolah berperan sebagai agen. Sedangkan di sekolah swasta, pihak yayasan atau pemilik berperan sebagai pihak principal. Meskipun mempunyai principal yang berbeda, kepala sekolah baik negeri maupun swasta mempunyai peranan  yang sama.
Dalam kaitannya dengan apakah sekolah berkualitas selalu mahal? penulis akan mengulas dari segi keunggulan competitive suatu sekolah. Menurut penulis ada dua tipe sekolah unggul/berkualitas. Yang pertama ialah sekolah yang unggul dengan diferensiasi tinggi dan biaya tinggi. Sedangkan yang kedual ialah sekolah yang unggul dengan diferensiasi tinggi tetapi dengan biaya yang relatif rendah.

Figure 1, keunggulan kompetitive
Sekolah swasta yang sukses dan terkenal dengan kualitasnya, umumnya berada pada tipe pertama. Sekolah swasta akan berusaha mempunyai diferensiasi/keunikan berbeda dengan sekolah lain. Sekolah ini akan mengeluarkan biaya yang relatif tinggi untuk mewujudkan keunikan tersebut. Contoh sekolah pada tipe ini ialah sekolah internasional atau sekolah nasional plus.
Dampak langsung dari sekolah berkualitas tipe pertama ini ialah besarnya beban biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orang tua murid. Besarnya biaya pendidikan mungkin bisa dua kali lipat dari sekolah pada umumnya. Untuk mengelola sekolah tipe ini diperlukan agen/kepala sekolah yang handal dan mampu mengelola sekolah dengan baik. Maju mundurnya sekolah berada di tangan para agen – agen (kepala sekolah) beserta jajaranya (guru dan tenaga kependidikan lainnya).
Untuk tipe kedua, yakni sekolah yang mempunyai diferensiasi yang tinggi tapi membutuhkan hanya sedikit biaya. Banyak contoh sekolah pada tipe kedua ini. Sekolah – sekolah negeri maupun swasta yang dikelola dengan baik merupakan contoh pada tipe ini. Ada sekolah negeri yang berlabel gratis, tapi mempunyai prestasi yang luar biasa. Biasanya sekolah seperti ini, diserbu oleh para orangtua pada awal tahun pelajaran.
Untuk mewujudkan sekolah seperti ini, agen / kepala sekolah dituntut untuk kreatif, cerdas dan visioner. Gebrakan – gebrakan yang lain dari pada yang lain sangat dibutuhkan untuk mewujudkan tipe sekolah ini. Para orangtua pun biasanya memiliki peran yang signifikan dalam mewujudkan sekolah yang unik/berbeda dengan biaya yang rendah.






BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Biaya merupakan hal yang harus dimiliki oleh sekolah untuk menjalankan roda pelayanannya. Banyak yang percaya dengan biaya yang tinggi, pendidikan yang berkualitas akan didapatkan dengan mudah
Penulis menyimpulkan bahwa ada dua tipe sekolah yang berkualitas, yakni sekolah dengan diferensiasi tinggi disertai biaya yang tinggi serta sekolah yang memiliki diferensiasi tinggi tetapi hanya membutuhkan sedikit biaya. Bila dilihat dari kriteria sekolah berkualitas, kedua tipe tersebut dapat diwujudkan.
 
B.     Saran
Biaya pendidikan memang diperlukan oleh pihak sekolah. Akan tetapi apabila kita mengabaikan kualitas karena biaya yang rendah akanlah sangat tidak bijaksana. Mengingat pendidikan adalah hak semua manusia khususnya rakyat Indonesia. Dalam makalah ini penulis menyarankan agar sekolah bisa menyediakan pendidikan berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Biaya terjangkau artinya perlu membedakan antara orangtua yang berpenghasilan rendah dan yang tinggi, sehingga ada subsidi silang dalam pembiayaan.