BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menyelenggarakan
Pendidikan berkualitas merupakan amanah Undang-undang yang tertuang dalam
Undang-undang Sisdiknas tahun 2003. Pada pasal 3 disebutkan bahwa
: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas 2003 pasal 3).
Belakangan
banyak bermunculan sekolah-sekolah yang berlabel unggulan, sebagai manifestasi
dari harapan untuk mewujudkan UU sisdiknas tersebut. Baik sekolah Negeri maupun
sekolah swasta berlomba – lomba untuk mewujudkan sekolah yang dinyatakan
berkualitas. Berbagai pencitraan pun dibentuk mulai dari Sekolah Internasional (Internasional School), Sekolah Bertaraf
Internasional (SBI), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Sekolah
Nasional Plus dan lain – lain. Kini persaingan antara intansi pendidikan
(sekolah) semakin terbuka. Tidak hanya terjadi pada sekolah swasta, namun juga
terjadi di sekolah negeri. Biaya pendidikan pun menjadi tolak ukur kualitas
pendidikan suatu sekolah. Sebagai contoh,
sekolah negeri A, mengklaim dirinya sebagai Sekolah Bertaraf Internasional
(SBI). Sekolah tersebut menjanjikan bahwa kualitas pendidikannya akan setara
dengan sekolah yang bertaraf internasional. Sebagai efek dari citra atau label
bertaraf internasional tersebut, orang tua harus membayar lebih untuk biaya
pendidikan putra – putri mereka di sekolah tersebut. Contoh lain adalah sekolah
swasta B, yang dengan statusnya yang Nasional Plus, menjanjikan pendidikan
berkualitas dengan didukung oleh fasilitas yang lengkap. Sama halnya dengan
contoh pertama, lagi – lagi orang tua harus membayar lebih untuk biaya
pendidikan. Dengan label tersebut banyak orang tua yang tertarik untuk
menyekolahkan putra – putrinya di sekolah tersebut. Orang tua siswa juga kadang
tidak peduli berapapun biayanya akan mereka usahakan yang penting anak mereka
bisa bersekolah di sekolah tersebut. Melihat fenomena tersebut, penulis sangat
yakin para orang tua tersebut mempunyai tujuan yang sama, yakni memberikan
pendidikan yang terbaik untuk putra putri mereka.
Jika demikian kenyataannya, benarkah
pendidikan kita sedang menuju arah yang lebih baik? Benarkah dengan biaya yang
mahal akan menjamin pendidikan itu berkualitas? Atau dengan menyekolahkan anak
pada sekolah yang berbiaya tinggi akan menjamin masa depan si anak?
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, penulis kemudian merumuskan satu pertanyaan yang
menjadi pokok pembahasan makalah ini. Pertanyaan tersebut adalah apakah pendidikan berkualitas itu selalu
mahal?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan
makalah ini, selain sabagai bahan diskusi perkuliahan Manajemen Strategik di
Program Pasca Sarjana Universitas Pakuan, juga diharapkan menjadi gambaran
bagaimana mewujudkan sekolah yang berkualitas.
D. Pembatasan Masalah
Untuk membatasi
terlalu meluasnya pembahasan makalah ini, penulis hanya akan membahas tentang pertanyaan,
Apakah sekolah berkualitas selalu mahal? Pada sekolah swasta dan negeri dan
swasta dilihat dari teori entitas.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A.
Sekolah
Berkualitas
Pandangan masyarakat
tentang sekolah berkualitas, unggulan atau sekolah juara, sangat bervariatif.
Sebagian besar masyarakat, belum banyak mengetahui apa yang dimaksudkan dengan
istilah itu. Umumnya, masyarakat mengartikan sekolah berkualitas, dengan
sekolah yang lulusannya pintar, nilai bagus, indikatornya banyak dari lulusan
sekolah tersebut diterima di perguruan tinggi bergengsi di negeri ini.
Ciri lainnya, sekolah
berkualitas, unggulan, juara adalah karena banyak peminatnya. Artinya, jumlah
yang mendaftar di sekolah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
yang dapat diterima. Dari pandangan ini, berarti semakin banyak jumlah lulusan
yang diterima di Perguruan Tinggi bergengsi serta semakin banyak jumlah
pendaftar yang ingin masuk ke sekolah itu, maka semakin menunjukkan tingkat
keunggulan sekolah bersangkutan.
Secara pasti, tidak ada
batasan yang definitif tentang sekolah berkualitas, karena konsep itu sifatnya
tentatif, kondisional, terikat oleh waktu dan tempat, sesuai kecenderungan apa
yang tengah menjadi kebutuhan masyarakat, dan tergantung dengan kondisi sekolah
bandingannya.
Karena itu, apa pun
definisi yang dibuat masyarakat tentang sekolah berkualitas, unggul, juara,
adalah sah-sah saja. Bahkan, dalam batas-batas tertentu perlu dipertimbangkan
dan diakomodasi. Tetapi, bagi para pengelola pendidikan, konsep sekolah berkualitas
ini perlu dirumuskan secara lebih operasional, agar indikator-indikatornya bisa
dilihat bahkan bisa diukur secara jelas.
Secara lebih kontekstual
dan operasional sesuai dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat dewasa ini,
sekolah berkualitas bisa diartikan merupakan sekolah yang dapat melahirkan
lulusan yang mandiri, yang dapat membuka lapangan kerja, bukan pencari kerja
yang memberi konstribusi semakin tambahnya jumlah penganggur terdidik dan
terselubung.
Dengan demikian,
indikator kualitas dan keunggulannya, selain dilihat dari seberapa besar dan
seberapa banyak kesiapan lulusannya untuk mengikuti jenjang pendidikan yang
lebih tinggi, juga dapat diukur dengan semakin banyaknya dari mereka yang hidup
mandiri, karena kemampuan keterampilannya dan kekuatan wawasan
kewirausahaannya.
B.
Teori
Entitas (Entity Theory)
Ide
utama dari entity theory ini
adalah memahami perusahaan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya. Teori
ini muncul dengan maksud mengurangi kelemahan- kelemahan yang ada dalam proprietary theory di
mana pemilik menjadi pusat perhatian. Namun demikian, entity theory pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan teori
pendahulunya, proprietary theory. Dalam konteks teori ini, terdapat dua
pandangan yang berbeda walaupun keduanya mengarah kepada konklusi yang sama,
yaitu stewardship atau pertanggungjawaban (accountability). Versi
pertama adalah versi tradisional yang memandang bahwa perusahaan beroperasi
untuk keuntungan pemegang saham, yaitu orang-orang yang menanamkan dananya dalam
perusahaan. Dalam hal ini, entitas bisnis memperlakukan akuntansi sebagai
laporan kepada pemegang saham tentang status dan konsekuensi dari investasi
mereka. Sementara itu versi kedua, yaitu pandangan yang lebih baru
terhadap entity theory,menganggap bahwa sebuah entitas adalah bisnis
untuk dirinya sendiri yang berkepentingan terhadap kelangsungan hidup dan
perkembangannya. Meskipun kedua versi tersebut menempatkan entitas sebagai unit
independen, namun terdapat sedikit perbedaan konsep di antara keduanya.
Pandangan tradisional masih memposisikan pemegang saham sebagai
“partisipan” (associates), sementara sudut pandang baru lebih memposisikan
mereka sebagai pihak luar (outsiders). Namun demikian, hal ini tidak
mempengaruhi muatan informasi dari laporan akuntansi yang disajikan oleh
entitas tersebut.
Timbulnya organisasi bentuk korporasi, (1)
diikuti oleh pemisahan antara kepemilikan dan manajemen, (2) membatasi kewajiban pemilik dan
(3) dari definisi bahwa suatu korporasi adalah sebagai suatu pribadi, merupakan
faktor pendorong evolusi teori baru pemilikan, salah satunya entity theory. Entity theory dinyatakan dengan
persamaan sebagai berikut :
Assets = Equities
Entity theory,
seperti proprietary theory, bersudut pandang pada perusahaan dan orang-orang yang
terlibat dengan operasi perusahaan. Sudut pandang ini meletakkan perusahaan,
bukan pemilik, sebagai pusat kepentingan akuntansi dan tujuan pelaporan
keuangan. Inti dari teori ini adalah kreditor seperti pemegang saham
menyumbangkan sumber daya pada perusahaan, dan perusahan yang berdiri sebagai
entitas yang berbeda dan terpisah dari kreditor dan pemegang saham (penyumbang
sumber daya). Assets dan liabilities adalah milik perusahaan, bukan milik
pemilik. Pendapatan yang diterima menjadi kekayaan entitas, dan beban yang
terjadi menjadi kewajiban entitas. Setiap laba merupakan milik entitas, dan
menjadi milik pemegang saham hanya ketika dividend diumumkan. Berdasarkan teori
ini, semua unsur yang terdapat pada sebelah kanan neraca, kecuali retained earnings (ini milik perusahaan), dipandang
sebagai klaim pada assets perusahaan, dan unsur-unsur individu dibedakan
berdasarkan pada sifat klaim tersebut. Beberapa unsur diidentifikasi sebagai
klaim kreditor dan klaim lainnya sebagai klaim pemilik; namun semuanya merupakan
klaim terhadap perusahaan sebagai entity yang terpisah.
BAB III
APAKAH SEKOLAH BERKUALITAS SELALU MAHAL?
APAKAH SEKOLAH BERKUALITAS SELALU MAHAL?
Untuk
menjawab pertanyaan di atas, penulis membagi menjadi dua jawaban. Yang pertama
adalah jawaban umum atau pendapat kami mengenai pendidikan berkualitas dan
biaya pendidikan. Sedangkan yang kedua, penulis akan membahas pendidikan
berkualitas dan biaya pendidikan yang dikaitkan dengan teori entitas.
A.
Pandangan Umum
Ungkapan ada harga ada rupa adalah tepat sekali. Sulit
sekali sekolah berkualitas tapi murah. Realitanya pendidikan itu mahal. Sekolah
swasta merupakan contoh riil akan hal ini. Biaya operasioanl yang tinggi
ditambah dengan penyediaan fasilitas menjadikan sekolah swasta memiliki tariff
yang lebih tinggi dari pada sekolah negeri. Di sekolah swasta orangtua harus
menanggung semua biaya penyelenggaraan sekolah mulai dari operasional, gaji dan
tunjangan guru, fasilitas keluarga guru, Program pengembangan sekolah
(fasilitas dan SDM) dan lainnya.
Para orang tua yang menyekolahkan putra – putrinya di
sekolah swasta berharap banyak bahwa dengan biaya yang tinggi, putra – putrinya
akan mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sekolah swasta biasanya akan
memberikan timbal balik yang sepadan. Fasilitas pendukung pendidikan diupayakan
selengkap mungkin. Untuk mewujudkan fasilitas pendukung yang baik dan
menunjang, diperlukan biaya yang tidak sedikit.
Para guru pun diharapkan memberikan pelayanan pendidikan
yang prima. Sumber Daya Manusia di pilih secara ketat serta diberikan pelatihan
pengembangan diri sehingga memenuhi standar pelayanan yang diharapkan. Selain
itu, kesejahteraan guru dan tenaga pendidikan pun menjadi cara lain untuk tetap
memberikan pelayanan prima kepada anak didik sekolah swasta. Sekali lagi,
dibutuhkan biaya pendidikan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan sector ini.
Sekolah swasta biasanya akan terus berupaya untuk
berkembang dan melebarkan sayap usahanya. Selain biaya operasional pendidikan,
kesejahteraan guru dan fasilitas, sekolah swasta pasti mempunyai program
pengembangan sekolah yang akan memberikan kesejahteraan bagi pihak – pihak yang
berkecimpung di dalamnya.
Sekolah
Negeri khususnya SD dan SMP bisa menyatakan sekolah gratis. Sekolah –
sekolah tersebut tanpa biaya karena semua dibiayai pemerintah dalam program
yang bernama Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun kenyataannya juga banyak
yang belum berkualitas. Bahkan kadang menjadi candaan, ketika hasil belajarnya
kurang baik. Gratis kok mau kualitas bagus! Tentu saja biaya tetap harus ada
untuk menutupi sektor pembiayaan pendidikan lain yang tidak tercover dalam
sumbangan dana BOS dari pemerintah.
Untuk
mewujudkan sekolah murah yang berkualitas di Indonesia memang tidak semudah
membalikan telapak tangan. Diperlukan banyak faktor, aspek dan dukungan yang
besar dari semua pihak yang terkait di dalamnya. Mulai dari pemerintah, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan, para kepala sekolah, guru dan juga orang tua.
B. Berdasarkan
Teori Entitas
Sekolah
merupakan salah satu lembaga yang mempunyai prinsip sama dengan sebuah
perusahaan atau organisasi. Di saat ini banyak sekolah bermunculan dengan dalih
mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyediakan pendidikan yang berkualitas.
Banyak yayasan atau perseorangan yang rela mengucurkan dananya untuk membangun
sebuah lembaga pendidikan. Namun dibalik tujuan mulia tersebut, ada pula tujuan
lain yang diharapkan dari mendirikan sebuah lembaga pendidikan/ sekolah. Tujuan
tersebut yaitu profit atau keuntungan.
Entity
theory adalah memahami perusahaan sebagai entitas yang
terpisah dari pemiliknya. Teori ini menjelaskan bahwa suatu entitas atau
organisasi bisnis mempunyai akuntabilitas yang terpisah dari pemilik (Marshall,
1927). Pemisahan ini dapat disajikan dalam suatu persamaan:
Aset =
Kewajiban + Ekuitas
Dengan demikian, dalam suatu sekolah ada
yang berperan sebagai principal dan ada juga yang berperan sebagai agen. Di
sekolah negeri, pemerintah berperan sebagai principal sedangkan kepala sekolah
berperan sebagai agen. Sedangkan di sekolah swasta, pihak yayasan atau pemilik
berperan sebagai pihak principal. Meskipun mempunyai principal yang berbeda,
kepala sekolah baik negeri maupun swasta mempunyai peranan yang sama.
Dalam kaitannya dengan apakah sekolah berkualitas
selalu mahal? penulis akan mengulas dari segi keunggulan competitive suatu
sekolah. Menurut penulis ada dua tipe sekolah unggul/berkualitas. Yang pertama
ialah sekolah yang unggul dengan diferensiasi tinggi dan biaya tinggi.
Sedangkan yang kedual ialah sekolah yang unggul dengan diferensiasi tinggi
tetapi dengan biaya yang relatif rendah.
Figure 1, keunggulan kompetitive
Sekolah swasta yang sukses dan terkenal
dengan kualitasnya, umumnya berada pada tipe pertama. Sekolah swasta akan
berusaha mempunyai diferensiasi/keunikan berbeda dengan sekolah lain. Sekolah
ini akan mengeluarkan biaya yang relatif tinggi untuk mewujudkan keunikan
tersebut. Contoh sekolah pada tipe ini ialah sekolah internasional atau sekolah
nasional plus.
Dampak langsung dari sekolah berkualitas
tipe pertama ini ialah besarnya beban biaya pendidikan yang harus ditanggung
oleh orang tua murid. Besarnya biaya pendidikan mungkin bisa dua kali lipat
dari sekolah pada umumnya. Untuk mengelola sekolah tipe ini diperlukan
agen/kepala sekolah yang handal dan mampu mengelola sekolah dengan baik. Maju
mundurnya sekolah berada di tangan para agen – agen (kepala sekolah) beserta
jajaranya (guru dan tenaga kependidikan lainnya).
Untuk tipe kedua, yakni sekolah yang
mempunyai diferensiasi yang tinggi tapi membutuhkan hanya sedikit biaya. Banyak
contoh sekolah pada tipe kedua ini. Sekolah – sekolah negeri maupun swasta yang
dikelola dengan baik merupakan contoh pada tipe ini. Ada sekolah negeri yang
berlabel gratis, tapi mempunyai prestasi yang luar biasa. Biasanya sekolah
seperti ini, diserbu oleh para orangtua pada awal tahun pelajaran.
Untuk mewujudkan sekolah seperti ini,
agen / kepala sekolah dituntut untuk kreatif, cerdas dan visioner. Gebrakan –
gebrakan yang lain dari pada yang lain sangat dibutuhkan untuk mewujudkan tipe
sekolah ini. Para orangtua pun biasanya memiliki peran yang signifikan dalam
mewujudkan sekolah yang unik/berbeda dengan biaya yang rendah.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Biaya merupakan
hal yang harus dimiliki oleh sekolah untuk menjalankan roda pelayanannya.
Banyak yang percaya dengan biaya yang tinggi, pendidikan yang berkualitas akan didapatkan
dengan mudah
Penulis
menyimpulkan bahwa ada dua tipe sekolah yang berkualitas, yakni sekolah dengan
diferensiasi tinggi disertai biaya yang tinggi serta sekolah yang memiliki
diferensiasi tinggi tetapi hanya membutuhkan sedikit biaya. Bila dilihat dari
kriteria sekolah berkualitas, kedua tipe tersebut dapat diwujudkan.
B.
Saran
Biaya pendidikan memang diperlukan oleh pihak sekolah.
Akan tetapi apabila kita mengabaikan kualitas karena biaya yang rendah akanlah
sangat tidak bijaksana. Mengingat pendidikan adalah hak semua manusia khususnya
rakyat Indonesia. Dalam makalah ini penulis menyarankan agar sekolah bisa
menyediakan pendidikan berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Biaya
terjangkau artinya perlu membedakan antara orangtua yang berpenghasilan rendah
dan yang tinggi, sehingga ada subsidi silang dalam pembiayaan.